Kamis, 28 Oktober 2010

“MENAWAN SEGALA PIKIRAN, MELAWAN GODAAN”


“Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus, dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna” (II Korintus 10: 3-6).
Bacaan Alkitab yang dikutif pada awal tulisan ini bertutur mengenai Paulus yang bersaksi tentang peperangan imannya. “Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi”, demikian dia bersaksi dalam ayat 3. Lalu pada ayat berikutnya ia menulis,  bahwa senjata yang  ia pakai bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Apa sebenarnya yang  ia maksudkan dengan “perjuangan” nya itu ? Tidak lain adalah perjuangan  melawan tantangan dari luar maupun godaan dari dalam, yang membahayakan imannya. Untuk itu, “kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus (ayat 5).
“Menawan segala pikiran” , artinya : menaklukkan dan menundukkan seluruh pikiran ke bawah kendali disiplin yang ketat. Ini adalah pernyataan yang amat penting yang berasal dari Tuhan sendiri. Penting, karena pada umumnya orang menyangkan bahwa pikiranlah yang menguasai orang, bukan orang menguasai pikiran. Anggapan bahwa pikiran tidak dapat diapa-apakan, membuat kita tidak pernah mencoba untuk menggarapnya. Sebaliknya, orang malah cenderung membiarkan pikiran bekerja sebebas mungkin, bahkan menamakannya “kreativitas”.
Memang tidak terlalu salah mengatakan bahwa pikiran sangat menentukan apa yang kita rasakan, katakan, dan lakukan. Bila kita berpikir si Joni itu penipu yang licik, maka dengan sendirinya seluruh sikap dan tindakan kita kepadanya akan mengekspresikan antipati tersebut. Benar ! Tetapi itu adalah karena kita membiarkan diri dikuasai oleh pikiran kita.
Padahal, kata Paulus, kita dapat mengendalikan pikiran kita, dan menaklukkannya kepada Kristus. Bahwa kita dapat menaklukkan dan mengendalikan pikiran, seperti kita bisa meng “klik” pesawat televisi kita. Pikiran itu seperti anak-anak, yang harus kita latih untuk menyadari siapa harus menuruti siapa. Bila kita konsisten, mereka lambat laun akan belajar. Tetapi kalau kita tidak pernah berusaha mendisiplinkannya, ya mereka akan berkembang liar dan tak  terkendalikan.
Setelah kita meyakini itu, sekarang kita bicarakan caranya. Pemazmur menulis, “Pada waktu malam aku ingat kepada namaMu, ya Tuhan…. (Maz. 119:55). Kalau kita ingin bangun pagi dengan pikiran yang murni dan bersih, maka amat penting sebelum tidur kita membuang semua pikiran yang kotor, lalu  mengkonsentrasikan diri kepada Tuhan. Menurut para ahli, apa yang merusak pikiran pada menit-menit terakhir akan  masuk ke bawah sadar pada waktu tidur, dan amat menentukan pikiran kita ketika  bangun.. Dalam Mazmur 19: 13 kita membaca doa pemazmur, “Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari”. Agaknya ia menyadari, bahwa apa yang tersembunyi di bawah sadar, amat menentukan apa yang kita lakukan secara sadar. Sebab itu, harus kita bersihkan dan kendalikan. Dan kita pasti sanggup melakukannya, asal mau, sebab Tuhan mengatakan begitu. Selamat memasuki Tahun yang baru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar